RSS Feed Dwibahasa: Kenapa Masih Saya Pertahankan

gookkis.com punya dua RSS feed terpisah: /rss.xml buat konten Indonesia dan /en/rss.xml buat konten Inggris, keduanya di-generate langsung dari fungsi getBlogPosts() yang sama dipakai buat render halaman blog — jadi nggak ada logic terpisah yang perlu saya sinkronin manual. Saya sering denger orang bilang RSS udah nggak relevan sejak Google Reader mati bertahun-tahun lalu. Saya nggak setuju, khususnya buat blog kecil kayak ini, dan saya punya alasan yang lebih konkret daripada sekadar “saya suka RSS.”
Beberapa bulan lalu saya iseng cek log akses Nginx buat liat request ke /rss.xml — jumlahnya kecil banget dibanding traffic halaman biasa, tapi pola-nya menarik: request-nya datang teratur, jam yang mirip tiap hari, dari beberapa IP/user-agent yang keliatannya emang reader aplikasi (NetNewsWire, Feedly bot, dan semacamnya), bukan orang buka browser sekali terus nggak balik lagi. Traffic dari RSS itu kecil, tapi loyal — beda karakternya sama traffic dari media sosial yang gampang spike terus ilang.
Pembaca serius masih pakai RSS reader
Orang yang niat ngikutin tulisan teknis biasanya udah punya reader dan lebih suka itu ketimbang notifikasi media sosial yang gampang ke-skip algoritma atau ketimbun postingan lain. Feed itu nggak minta perhatian mereka lewat notification badge yang annoying — mereka buka reader-nya kapan mereka mau, baca apa yang emang mereka mau baca.
Biayanya nyaris nol
Astro udah nyediain cara gampang buat generate feed dari content collection yang sama dipakai buat render halaman, lewat helper @astrojs/rss. Nggak nambah maintenance berarti — cuma satu file rss.xml.js per locale yang manggil fungsi yang udah ada dan map title, description, pubDate, sama link-nya. Saya nggak perlu nulis logic baru, nggak perlu database tambahan, nggak perlu service terpisah yang bisa down. Kalau saya nambah post baru, feed-nya otomatis update di build berikutnya — sama persis kayak halaman blog-nya.
Dipisah per bahasa itu penting, bukan cuma soal rapi-rapi
Kalau saya gabung satu feed buat dua bahasa, pembaca yang cuma paham Inggris bakal dapet notifikasi buat post berbahasa Indonesia yang nggak mereka ngerti, dan sebaliknya. Itu bukan cuma annoying, itu bikin mereka lebih mungkin unsubscribe sama sekali daripada nyaring sendiri mana yang relevan. Feed terpisah bikin tiap pembaca cuma dapet apa yang beneran relevan buat mereka — trade-off-nya cuma satu file config tambahan, yang murah banget dibanding manfaatnya.
RSS nggak butuh algoritma yang mutusin siapa yang liat post saya. Nggak butuh akun. Nggak bisa di-deprioritaskan sama platform pihak ketiga yang tiba-tiba ganti kebijakan distribusi kontennya. Buat blog personal yang isinya kontrol penuh saya, itu match banget sama filosofi keseluruhan situs ini: sederhana, dimiliki sendiri, nggak bergantung sama mood algoritma siapa pun.