Kembali ke Blog

Pasar Kerja Lagi Paling Ketat yang Pernah Saya Liat — Ini Kelihatannya dari Sisi Freelancer

#career#freelance#job-market
Pasar Kerja Lagi Paling Ketat yang Pernah Saya Liat — Ini Kelihatannya dari Sisi Freelancer

Headline tahun ini udah cukup konsisten sampai berhenti berasa kayak noise: lowongan software engineering ada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, hiring entry-level yang paling kena, dan orang-orang di internet berantem soal berapa persen itu gara-gara AI ngegantiin kerjaan junior versus hiring freeze umum yang emang bakal kejadian juga. Saya nggak punya opini kuat soal debat makronya — saya nggak punya data buat jadi wasit, dan saya curiga sama siapapun yang ngaku yakin dari sisi manapun. Yang saya punya itu pandangan dekat soal gimana squeeze ini kelihatan dari sisi freelance, karena itu ngubah bentuk inbox saya dengan cara yang nggak saya duga.

Perubahan yang paling keliatan: inbound lebih banyak, tapi campurannya lebih jelek. Cold inquiry saya dapet lebih banyak dibanding setahun lalu — kedengeran kayak kabar bagus, dan sebagiannya emang bagus. Tapi porsi yang jauh lebih gede dari itu sekarang perusahaan yang baru aja PHK sebagian tim in-house-nya dan coba nutup kerjaannya lewat freelancer dengan biaya jauh lebih murah dari headcount. Bukan karena mereka nemuin kelebihan flexible staffing — hiring freeze dari finance bikin posisi full-time nggak mungkin sementara kerjaannya sendiri nggak ilang. Klien kayak gini beda banget dikerjain dibanding orang yang emang milih hire freelancer. Scope-nya biasanya kabur, timeline-nya “kita butuh dari kemarin karena orang yang megang ini udah kita lepas,” dan obrolan budgetnya lebih susah karena mereka udah harus justify pengeluaran ke atasan yang mikir biaya freelance harusnya lebih murah dari gaji, bukan sebanding plus overhead.

Yang kurang keliatan: obrolan pricing saya sendiri jadi lebih susah, bukan lebih gampang. Logikanya, pasar kerja yang ketat buat karyawan harusnya dorong demand ke freelancer dan ngasih saya leverage lebih. Kenyataannya kebalikan buat sebagian tahun ini — gelombang engineer yang baru kena PHK jadi freelancer sendiri, sebagian quote rate yang sama sekali nggak ngitung overhead nggak dibayar dari beneran ngejalanin bisnis freelance: invoicing, jeda antar kontrak, tooling dan asuransi sendiri. Saya nggak nyalahin mereka — kalau saya baru kehilangan posisi, mungkin saya ngelakuin hal yang sama biar bisa bertahan. Tapi itu bikin beberapa calon klien dateng dengan angka di kepala yang di-set sama orang yang undercharge karena kepepet, bukan sama apa yang beneran diperluin kerjaannya. Saya jadi harus lebih eksplisit lebih awal soal kenapa rate saya segitu.

Satu tempat di mana squeeze ini beneran nguntungin saya: apapun yang nyentuh integrasi AI. Perusahaan yang ngelepas engineer junior, hampir tanpa kecuali, adalah perusahaan yang sama yang sekarang coba nempelin fitur AI atau workflow agent internal ke produk yang udah ada. Kerjaan spesifik itu — nyambungin model ke codebase yang udah ada tanpa ngerusak bagian yang jalan — bukan sesuatu yang gelombang PHK umum udah bikin pasarnya banjir orang yang bisa ngerjain dengan reliable. Saya dapet tiga kontrak tahun ini murni dari skill spesifik itu, yang nggak bakal saya dapet cuma dari label “React developer” atau “backend developer”. Bukan kebenaran universal buat semua freelancer — spesifik ke apa yang kebetulan saya bisa — tapi itu sinyal paling jelas yang saya liat: pasarnya nggak jelek merata, jelek buat kerjaan generalist yang nggak dibedain, fine-fine aja buat yang cukup spesifik sampai nggak ada sepuluh freelancer lain yang bisa ngerjain juga.

Yang beneran saya ubah sehari-hari: saya berhenti nerima inquiry pertama apa adanya, sekarang nanya lebih dulu kenapa posisi atau proyeknya kebuka. “Orang internal keluar” beda banget bacanya dari “kita abis PHK dan butuh orang nutup gap dengan budget fixed,” dan saya price serta scope dua situasi itu beda meskipun kerjaan yang dideskripsiin sama persis. Saya juga berhenti asumsi budget yang disebutin klien nyerminin nilai kerjaannya. Lebih dari sekali tahun ini angka awal klien jelas anchored dari gaji lama junior yang di-PHK dibagi dua belas — sama sekali bukan cara ngasih harga kerjaan kontrak — dan saya harus balikin percakapannya ke apa yang beneran diperluin deliverable-nya.

Bagian yang paling ngejutin saya: saya nolak kerjaan lebih banyak dari biasanya, bukan lebih dikit. Dengan pasar lebih ketat kamu bakal ngira freelancer nerima semua yang masuk gara-gara mikir langka. Saya malah kebalikannya, kebanyakan karena klien-campuran-jelek yang saya sebut tadi proporsinya lebih banyak scope kabur dan timeline nggak realistis — persis proyek yang makan jam paling banyak dibanding bayarannya. Jadi lebih pemilih nggak nurunin income saya. Malah ngelindungin, karena kontrak “pokoknya cover yang biasa dikerjain senior yang di-PHK” itu selalu ngaret lewat budgetnya, setiap kali.

Posisi saya soal debat yang lebih gede: framing “AI ngegantiin engineer junior” dapet airtime kebanyakan dibanding penjelasan yang lebih membosankan — banyak perusahaan over-hire pas boom sebelumnya, sekarang lagi koreksi, dan pakai tooling AI sebagai alasan buat keputusan yang sebenarnya soal balance sheet. Dari tempat saya duduk, efek beneran ke bisnis saya bukan “demand engineer berkurang,” tapi “demand-nya sama atau malah lebih banyak, cuma distribusinya nggak rata”: skill spesifik dan sempit fine-fine aja, tenaga generalist yang nggak dibedain beneran ke-squeeze, dan banyak pasar freelance di antaranya sekarang di-price sama orang yang nggak milih jadi freelancer — cuma kedampar di situ abis PHK. Bukan cerita dramatis “AI ambil semua kerjaan” dari headline. Lebih ribet dan lebih spesifik, yang biasanya emang gitu kenyataannya kalau ditelusurin.